Telinga adalah salah satu panca indera kita yang berfungsi untuk mendengar. Namun, bagaimana jika indera pendengaran kita mendapat gangguan?

Telinga kita seharusnya menangkap suara dari luar bukannya membuat suara di dalam telinga itu. Kadang-kadang bahkan di ruangan yang sunyi senyap kita dapat mendengar bunyi-bunyi yang sepertinya datang dari dalam kepala kita.

Bunyi-bunyi itu terkadang mirip seperti radio yang berada di gelombang yang salah lalu melengking tinggi. Pada kesempatan lain, kita juga pernah mendengar gemerisik atau dengungan yang tetap.

Semua ini bisa menggambarkan sebuah tinnitus atau yang biasa disebut dengan teliang berdengung. Sering kali dengungan itu dimulai setelah mendengar suara yang sangat keras. Seperti misalnya, ada seseorang yang bertepuk tangan di dekat telingamu atau letusan petasan. Telingamu mungkin juga akan berdengung setelah keluar dari arena konser rock atau setelah satu jam mendengarkan handphone.

Jenis Dengungan seperti ini biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat atau tidur. Tetapi suara keras dan bila terus berulang sekian waktu dapat juga merusak telinga secara permanen dan akan membuat kehilangan sebagian pendengaran.

Apa yang menimbulkan bunyi dalam kesunyian? Jika kamu dapat melihat ke dalam telingamu, kamu akan melihat selaput yang disebut dengan gendang telinga. Gendang telinga ini membentang di terowongan yang menuju ke dalam. Getaran dari udara yang mengenai gendang telinga itulah yang dapat membuat telinga bergetar.

Di balik gendang telinga itu terdapat bilik bertulang yang dilengkapi dengan tiga tulang kecil yang dapat bergerak. Tulang-tulang itu terdiri dari tulang martil, landasan dan tulang sanggurdi sesuai dengan bentuknya. Tulang-tulang ini menangkap getaran dari gendang telinga dan mulai bergerak-gerak cepat.

Lebih dalam lagi, di telinga terdapat bilik penuh cairan yang panjangnya satu inci lebih sedikit, yang disebut dengna Cohlea atau rumah siput. Getaran dari tulang-tulang yang bergerak itu, dapat menimbulkan ggelombang di dalam cairan. Seperti gelombang di lautan yang mirip rumput laut di bawah air, ribuan sel rambut itu berayun-ayun di cairan yang bergerak bolak-balik.

Sel-sel rambut ini mutlak diperlukan bagi pendengaran kita. Gelombang yang melewati sel-sel rambut itu memicu impuls listrik yang bergerak sepanjang saraf auditori (saraf pendengaran) menuju ke otak. Kemudian otak akan menerjemahkan sinyal listrik menjadi bunyi, musik dan suara, pukulan dan dentuman serta kicau burung.

Sel-sel rambut itu dapat terluka oleh bunyi keras atau akibat pukulan di kepala yang bisa memar, kusut atau lepas dan rontok dari akarnya. Mengurangi atau menghancurkan kemampuan mereka untuk mengirim impuls listrik saraf pendengaran.

Tetapi sebagian sel-sel rambut dapat terluka sedemikian rupa hingga terus mengirimkan semburan listrik ke saraf pendengaran bahkan ketika mereka tidak bisa lagi menanggapi dengan baik bunyi dari luar.

Akibatnya, sel-sel rambut ini terus menyala. Ketika otak menerima sinyalnya, otak menterjemahkannya sebagai bunyi. Jadilah kita mendengar “dengung” bahkan diruangan yang sunyi sekalipun.

Bunyi yang keras dan cedera kepala bukan satu-satunya penyebab. Pada penyakit telinga yang umum, otosclerosis, terjadi pada pertumbuhan abnormal tulang di sekitar telinga dalam, yang dapat menghambat tulang sanggurdi bergetar dengan baik dan secara drastis mengurangi pendengaran sekaligus meningkatkan “dengungan”. Pilek dan flu dapat menyebabkan pembengkakan di telinga, yang dapat membuat sel-sel rambut terganggu.

Tekanan darah tinggi juga dapat menciutkan pembuluh darah serta kolesterol juga dapat menyumbatnya dan lebih sedikit darah bernutrisi yang dapat lewat ke sel-sel rambut yang butuh pasokan.

Kina dam aspirin sering kali menyebabkan tinnitis (telinga berdengung). Stimulasi dari kafein dan nikotin pun juga dapat memicu sel-sel rambut untuk beraksi tanpa ada fungsinya.

Sangat banyak faktor-faktor yang dapat menyebabkan tinnitis. Rata-rata dari kita pernah mengalami hal seperti itu, mendengar dengungan atau suara-suara aneh di telinga. Cobalah menghindari apa yang menjadi penyebab dan pemicu telinga berdengung dan lindungi semaksimal mungkin telingamu dari bunyi-bunyian yang terlalu keras apalagi dengan intensitas yang sering.