Saat kita terjatuh atau terluka akibat benda tajam lalu menimbulkan luka  pada kulit kita sehingga berdarah, maka sistem tubuh kita akan merespon secara otomatis untuk menambalnya. Petugas perbaikan yang akan dikerahkan oleh tubuh adalah trombosit di dalam darah.

Luka yang mengeluarkan darah adalah akibat dari pembuluh darah yang pecah. Apabila darah itu terus mengalir, barulah akan timbul masalah yang besar. Tetapi, dalam tubuh kita terdapat sistem darurat yang akan mengeraskan darah. Inilah yang menyebabkan darah langsung berhenti saat terluka. Sistem darurat ini adalah trombosit.

Ketika kita terluka, trombosit di dorong ke bagian luka, lalu saling menggumpal dan membentuk gumpalan seperti perekat. Gumpalan ini merupakan penyumbat yang menghambat keluarnya darah. Pada gumpalan itu dibuatlah zat yang bernama fibrin yag berfungsi seperti benang, mengikat sel darah putih dan sel darah merah dengan kuat dan membentuk gumpalan. Gumpalan yang mengeras dan mengering ini biasa kita sebut dengan koreng. Jika begitu kenapa saat kita digigit oleh nyamuk atau lintah darah tidak membeku? hal ini disebabkan karena zat yang terdapat pada air liur nyamuk dan lintah tidak dapat membuat darah menjadi beku.

Setelah beberapa hari luka yang kita alami, tubuh memproduksi gumpalan-gumpalan keras berwarna hitam untuk melindungi jaringan tubuh bagian dalam agar tidak terinfeksi oleh bakteri. Gumpalan atau koreng tersebut akan terasa gatal, hal itu mengindikasikan bahwa luka akan segera kering dan adanya zat yang disebut histamin yang muncul saat sel darah putih mengusir bakteri yang berkumpul di luka. Tetapi, jangan coba-coba untuk mengelupasnya, biarkan terlepas dengan sendirinya. Karena jika belum terlepas sendiri, berarti jaringan ikatnya masih menempal pada kulit bagian dalam. Dan jika dipaksa lepas, maka luka yang belum benar-benar kering akan terbuka lagi dan mengeluarkan darah kembali kemudian membuat luka yang baru.

Munculnya koreng pada kulit menandakan bahwa pada bagian bawah koreng sedang terjadi pertarungan, yakni pertarungan sel darah putih melawan bakteri untuk menghambat infeksi bakteri pada luka. Selain itu, sel darah putih membersihkan sel-sel kulit mati yang berada di sekitar luka. Tidak hanya itu saja, pada bagian bawah koreng juga dibuat sel kulit yang beru. Koreng yang menutupi luka, menghalangi bersarangnya bakteri di udara, juga membantu penyembuhan bagian yang terluka seperti kulit bagian bawah, pembuluh darah, dll, sehingga akhirnya kulit yang terluka menjadi normal kembali.

Yang perlu diketahui, tidak semua luka akan menjadi koreng. Adakalanya luka yang kita dapat tidak berubah menjadi koreng. Ada atau tidaknya koreng yang menyertai luka kita, jika trombosit darah berfungsi dengan baik, maka hal yang berhubungan dengan cepat atau lambatnya pengeringan luka tidak ada sangkut pautnya dengan koreng.

Beberapa penyembuhan luka yang salah:

1. Mengolesi banyak ekali antiseptik yang keras

Antiseptik yang keras tidak hanya membunuh bakteri, tapi juga sel kulit yang beru, sehingga menyebabkan luka lambat untuk sembuh.

2. Menempelkan plester pada luka

Menempelkan plester pada bagian yang terluka membuat kulit yang baru akan menempel pada kain kasa pada plester, sehingga ikut terlepas saat akan plester dilepaskan. Selain itu, kalau daerah di sekitar luka mengering, jadi lama sembuhnya.

3. Sering menjemur luka di bawah sinar matahari

Apabila luka dijemur di bawah sinar matahari, kulit baru akan berubah menjadi hitam dan mempermudah terciptanya bekas luka.