Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari keridhaan Allah seperti sebuah kebun yang terletak di daratan tinggi yang disiram hujan lebat, maka kebun itu akan menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun memadai………..” (QS. Al Baqarah : 265).

Siapa yang menolak jadi jutawan atau milyader? Tentunya hampir semua orang pasti ingin memiliki harta yang berkecukupan. Seseorang dengan uang melimpah bisa membeli semua barang-barang yang diinginkan dan diimpikannya. Mau baju berharga jutaan…oke, tinggal ambil….bayar…..selesai. Ingin rumah mewah dengan luas 5x lapangan sepakbola dengan 10 tingkat ke atas maupun ke bawah (basemant)…tidak masalah…tinggal gesek / coret-coret…rumah impian terwujud. Dengan kata lain, semua kebutuhan maupun keinginan, bisa diwujudkan.

Pertanyaannya. Salahkan kita mengharapkan itu semua? Berharap menjadi kaya?

Tidaklah salah jika seseorang bercita-cita menjadi orang kaya. Yang salah adalah jika ada yang menyatakan dan menyakini bahwa kekayaan merupakan suatu ukuran kemuliaan, dan kemiskinan adalah suatu kehinaan. Padahal, kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah untuk hamba-hamba-Nya.

Islam memang mengajarkan kita untuk menjadi kaya. Kaya dalam agama, harta, pahala dsb. Rasulullah saw. adalah seorang yang kaya raya, demikian pula para sahabat. Selain kaya, Rasulullah saw dan para sahabat juga sangat berprestasi sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, meskipun kaya tapi hidup mereka sangatlah sederhana. Intinya, Rasulullah dan para sahabat tetap menjalankan kehidupan yang proporsional, maksudnya mereka tidak hanya mengejar kebahagiaan dunia, tapi juga akhirat pu tetap menjadi tujuan utama dalam hidupnya.

Ingatlah bahwa semua kekayaan yang ada di dunia ini adalah milik Allah swt. Kita lahir ke dunia telanjang (tidak membawa suatu apapun) dan nantinya kita mati juga tidak akan membawa apa-apa (kecuali amal ibadah). Semua kekayaan baik berupa harta bergerak maupun tidak bergerak yang kita miliki, itu semua hanyalah titipan Allah kepada kita. Jadi, kita sebagai hamba-Nya yang dititipkan sesuatu oleh-Nya, haruslah selalu dapat memanfaatkan dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Pertama, kita mendapat harta dengan cara yang halal lalu yang kedua, kita membelanjakannya pun dengan cara yang halal juga. Dan yang ketiga adanya harapan bahwa semua yang kita lakukan mendapat ridha dari Allah swt., termasuk kekayaan yang dimiliki menjadi barakah. Yaitu kekayaan yang membuat pemiliknya merasa qana’ah (puas dan merasa cukup), memiliki batin yang tenang dan membawa pemiliknya menjadi lebih mulia daripada kekayaan yang dimilikinya.

Insya Allah, dengan begitu kekayaan dapat digunakan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Caranya, harta tersebut hendaknya dibelanjakan di jalan Allah melalui zakat, infak dan shadaqah. Sebaliknya, bila kekayaan dibelanjakan hanya untuk kesenangan hawa nafsu semat, maka pemiliknya tidak akan merasa puas, tidak tenteram, dan yang lebih parah lagi, ia menjadi terhina karena kekayaan yang dimilikinya baik itu terhina di dunia maupun di akhirat. Naudzubillah tsumma naudzubillah min dzaalik.