Bagi seorang ibu, mewujudkan cinta kasih pada anak dengan mencium dan membelainya sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi, perlakuan seperti itu jarang dilakukan oleh seorang ayah. Apakah Anda termasuk seorang ayah yang sering mencium dan membelai dengan penuh kasih sayang seperti halnya seorang ibu terhadap putranya? jika ya, maka Anda termasuk seorang ayah yang baik dan berbahagialah Anda.

Rasulullah saw adalah sosok yang paling sering memberikan ciuman dan belaian kepada anak-anak. Benarkah ciuman itu memberikan makna tersendiri bagi diri seorang anak?

Pada suatu hari, datang seorang kepala suku mengunjungi nabi dan melihat beliau sedang mencium cucunya. Dia mengatakan kepada Nabi saw, “saya mempunyai sepuluh orang anak, seorang di antara mereka tidak pernah saya cium. “Kemudian Rasulullah saw menjawab, “Kalau Allah tidak memberikanmu perasaan kasih sayang, apa yang dapat diperbuat-Nya untuk kamu? Orang yang tidak mempunyai kasih sayang pada orang lain, dia sendiri tidak akan dikasihi”. (HR. Bukhari)

Dari peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya wujud kasih sayang seorang ayah kepada anaknya tidak hanya dalam bentuk pemenuhuan kebutuhan materi saja, tetapi juga diperlukan sentuhan-sentuhan halus dari tangan seorang bapak.

Bahkan, sentuhan kasih sayang dan ciuman kepada seorang anak tidak hanya menunjukkan kecintaan seorang ayah kepada anaknya, tetapi juga bisa menjadi seorang ayah ahli surga. Suatu ketika Nabi saw. bersabda: “Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu, karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga”. (HR. Bukhari)

Selain memberikan sentuhan kasih sayang dan ciuman yang lebih kepada anak, seorang ayah juga bisa memberikan pendidikan melalui ibadah yang biasa dilakukan di masjid atau pengajian-pengajian yang selama ini diikutinya. Jangan marah kalau pada suatu ketika seorang anak mengganggu ayahnya yang sedang salat, sebab gangguan yang dilakukan anak itu merupakan pengenalan awal seorang anak terhadap ajaran Islam.

Bahkan, Rasulullah saw sangat sering mengajak cucunya, Hasan dan Husein ke masjid dan bila sedang salat, kadang mereka naik ke punggung kakeknya tersebut. Biasanya mereka naik ke punggung kakeknya pada saat sujud. Dalam keadaan seperti itu, Nabi saw terus bersujud supaya mereka tidak terjatuh. Bila mereka sudah turun, baru Beliau bangkit dari sujudnya. (HR. Abu Dawud)

Dengan teladan yang telah diberikan oleh Rasulullah saw tersebut, dapat dipetik suatu kesimpulan bahwa mencintai seorang anak harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Selain memeluk, mencium dan membelainya, mereka juga harus dikenalkan dengan dasar-dasar ajaran Islam dengan mengajak mereka berbaur di lingkungan tempat ibadah seperti masjid atau di pengajian-pengajian. Dengan diajak melakukan kegiatan-kegiatan ibadah seperti itu, selain bisa menjalin kedekatan antara seorang ayah dengan anak juga bisa memberikan pelajaran untuk pengembangan nilai-nilai moral keagamaan kepada anak.