Bumi merupakan salah satu planet di sistem tata surya yang mengitari matahari pada porosnya selama 365 hari dengan kecepatan 18 km per detik. Selain planet, di ruang angkasa juga terdapat benda-benda angkasa lainnya, seperti komet, meteor maupun asteroid yang banyak bertebaran seperti batu dan debu dengan berbagai macam ukuran.

Dalam kerutinan mengelilingi matahari, Bumi tidaklah terbebas dari ancaman tabrakan dari benda-benda angkasa lainnya, seperti asteroid (yang melenceng dengan orbitnya di antara planet Mars dan Jupiter) atau kepingan komet yang setelah mendekati matahari beberapa kali biasanya mengalami disintegrasi.

Ancaman tabrakan dari benda-benda angkasa ke Bumi hampir setiap waktu terjadi, untungnya sampai saat ini tidaklah terlalu menimbulkan kehancuran yang dahsyat. Pecahan-pecahan benda angkasa yang menghantam Bumi yang tidak cukup besar, biasanya akan habis terbakar saat memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Lalu, bagaimana jika komet/asteroid yang besar menghantam Bumi dengan ukuran diameternya mencapai lebih dari 25 km? tidak dapat dibayangkan, kerusakan dan kehancuran di Bumi pasti terjadi, seperti yang dialami pada zaman Dinosaurus yang memusnahkan hewan purba tersebut 65 juta tahun lalu.

Peristiwa komet yang lumayan besar yang menghantam Bumi pernah terjadi di Tangushka, sebuah kawasan hutan di Siberia (Rusia) pada tahun 1937. Atau yang lebih spektakuler lagi yuang menimbulkan kawah besar seperti dijumpai di Arizona, Amerika Serikat dengan diameter 1.219 meter.

Kebanyakan asteroid yang jatuh tidak menyebabkan kerusakan di Bumi, kecuali diameternya mencapai lebih dari 25 km. Dan masa jatuhnya asteroid ke Bumi pun diperkirakan setiap 2 – 12 tahun sekali.

8 Oktober 2009, meteor besar berdiamet 10 meter dengan massa 1.240 ton menghantam Bone, Sulawesi Selatan. Batu angkasa yang melayang di yakini sebagai asteroid kelompok Apollo, yaitu asteroid yang dekat dengan Bumi yang mempunyai titik terdekat dengan Matahari (167 juta km).

21 Oktober 2009, hujan meteor tahunan Orionid terjadi. Hujan meteor ini bisa terjadi saat Bumi melintasi jalur yang dilalui Komet Halley. Di jalur itu terdapat serpihan-serpihan material komet yang berpijar dan tampak seperti hujan cahaya ketika masuk atmosfer Bumi. Serpihan-serpihan material ini yang jatuh ke Bumi yang tersisa hanyalah yang berukuran sebesar kacang atau butiran-butiran pasir.

Hujan meteor Orionid ini yang menjadi latar depan gugus bintang Orion, termasuk yang paling indah manghias langit malam. Sejak 2006, Orionid menjadi tontotan menakjubkan dengan 60 atau lebih meteor tiap jam.

Dengan sedikit sisi keindahan yang dapat kita lihat, sisi terbesar dari kejelekan meteor atau asteroid patutlah kita mewaspadainya. Bahaya ancaman terbesar yang diakibatkan olehnya dapat mengancam kelangsungan hidup mahkluk yang ada di Bumi. Suatu waktu Bumi pasti akan dibombardir oleh hujan asteroid. Apakah masa kepunahan makhluk hidup seperti zaman Dinosaurus akan terjadi kembali dalam waktu dekat?

Iklan