logo PSSI

Pada 19 April 1930, induk organisasi sepakbola Indonesia berdiri. Jadi, di tahun 2009 ini, PSSI sudah berumur 79 tahun, jika disamakan dengan umur manusia, PSSI sudah lah sangat tua dan renta, tetapi dengan sebuah usia yang sudah berumur, seharusnya PSSI lebih matang dan kenyang dengan pengalaman-pengalaman, baik itu dalam menjalanankan roda organisasi maupun dari sisi pencapaian prestasi. Tetapi dalam kenyataannya belum ada yang bisa dibanggakan, perjalanan roda kompetisi saja masih banyak dipenuhi problematika, kepengurusan PSSI yang kontroversial, sikap dingin terhadap himbauan FIFA, prestasi yang tidak menonjol. Saat ini Timnas saja sudah jauh tertinggal dari Thailand, Singapura dan Vietnam, dan sewaktu-waktu Myanmar pun dapat menyalip kapan saja.

timnas Indonesia

Dulu Indonesia sempat menjadi macan Asia di pentas sepakbola di benua Asia. Flash backnya saat olimpiade 1956 di Melbourne, Indonesia nyaris mengalahkan Uni Soviet, di olimpiade Montreal Indonesia nyaris lolos sebelum dikalahkan Korea Utara lewat adu penalti, di Asian Games 1986 Seoul Indonesia menjadi semifinalis, dan di ajang Sea Games, Indonesia meraih emas pada tahun 1987 dan 1991.

Roda kompetisi yang sudah berjalan selama bertahun-tahun tidak mengalami perubahan yang sangat signifikan ke arah profesionalisme. Perubahan jadwal yang selalu berubah, mundurnya jadwal kompetisi di awal musim, promosi dan degradai tim yang dapat berubah setiap saat, sanksi-sanksi terhadap seluruh komponen sepakbola yang melanggar aturan, itu semua baru puncaknya saja, seperti gunung es.

ISL-logo-isi

Semua ini dapat terimbas kepada pencapaian prestasi klub di kancah internasional. Contoh: juara liga Indonesia dan Coppa Indonesia tahun lalu, Sriwijaya FC, babak beluar di Liga Champions Asia (LCA). Bukan hanya Sriwijaya FC, namun hampir semua klub yang juara Liga Indonesia tidak dapat berbuat banyak di kancah Internasional

Satu hal lagi citra PSSI yang semakin tercoreng adalah saat perayaan ulang tahun yang kemaren, Induk Organisasi Sepakbola Indonesia tersebut malah menggelar pesta yang sangat mewah di tempat yang sangat mewah pula serta dengan penampilan artis-artis papan atas pula. Tergambar keangkuhan dan ketidakpedulian terhadap roda kompetisi yang harus diemban, roda kompetisi yang carut marut, terancam mundur, perijinan yang tidak sesuai dengan harapan para tim DISL dan pecinta sepakbola Indonesia serta masalah-masalah yang menimpa banyak klub untuk terus fight berkompetisi.

Harapan untuk kemajuan Sepakbola Indonesi di kancah Internasional adalah suatu mimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan jika pengurus PSSI tidak mau berpikir secara realistis bagaimana seharusnya yang mesti dilakukan, belajar lah dari pengalaman-pengalaman yang lalu, ikuti nasehat dan imbauan dari FIFA sebagai badan tertinggi sepakbola dunia, namun di balik meraih kesuksesan itu, semua elemen-elemen yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia harus lah bersikap profesionalisme juga, mendukung apa yang baik dan memberi masukan apabila tidak baik. Seluruh komponen harus duduk bersama-sama menujun satu tujuan yakni profesionalisme dan prestasi untuk kebanggaan negara ini yaitu Indonesia.

Iklan