harimau-sumatera1
Tanggal 16 Februari 2009 di Desa Jorong Kabun, Sumatera Barat, harimau Sumatra keluar dari habitatnya menuju perkampugan warga. Harimau itu menyerang ternak dan juga manusia, genderang perang dibunyikan warga, warga kembali menyerang harimau dihutan-hutan, membuat jebakan-jebakan dan membunuh harimau tersebut. Fenomena ini telah terjadi bertahun-tahun lamanya, saling serang dan saling membunuh mewarnai konflik berdarah di pulau Sumatera ini.

Di Aceh, 4 ekor turun gunung dan terlihat disekitar perkampungan warga di waktu yang berlainan. Di Jambi, 8 orang tewas (semua pria) yang bekerja sebagai pembalak kayu liar di hutan. Di Riau, 2 warga terluka dan 3 ekor babi mati diserang harimau, lalu warga membuat perangkap dan berhasil menangkap seekor harimau jantan dengan berat 60 kg serta panjang 2 meter. Beruntung bagi harimau ini, umurnya ternyata panjang, dia diserahkan warga ke dinas kehutanan setempat, namun harimau ini sekarat karena 2 minggu berada di kerangkeng warga dan tidak diberi makan serta mengalami luka2 akibat jeratan tali.

Permusuhan dan pembunuhan antara 2 mahkluk Allah ini sudah lama terjadi. Di Aceh, tahun 2005 ada 8 kejadian dan di tahun 2008 ada 20 kejadian yang menewaskan 2 orang, 113 ternak mati serta 3 ekor harimau mati. Di Riau, tahun 2002 ada 44 kejadian. Di Sumatera Barat, di tahun 2006 menewaskan 14 orang dan 6 ekor harimau mati. Di Jambi, tahun 2009 menewaskan 2 orang.

Ada apa sebenarnya di balik konflik antara manusia dengan harimau? Kembali kepada kita, manusia sebagai mahkluk yang berakal dan memiliki kesempurnaan dari pada mahkluk Allah lainnya, seharusnya dapat berpikir secara logis dan tidak hanya mengandalkan nafsu semata. Jika nafsu dapat diredam, kejadian seperti ini tidak akan terjadi.

Kenapa harimau menyerang warga? Yang pertama, karena hutan yang notabane nya sebagai habitat harimau, semakin lama semakin susut dari waktu ke waktu hal ini disebabkan adanya pembalakan kayu liar dan konversi manusia yang mengalihfungsikan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit serta merubah hutan menjadi hutan tanaman yang terdiri dari 1 atau 2 jenis tanaman saja. Contoh di Sumatera Barat 50.000 ha hilang / tahun.

Jika hal tersebut semakin menjadi-jadi, kerusakan hutan tak lagi dapat dibendung dan semakin banyaknya perkampungan-perkampungan baru yang dibuat warga, tidak menutup kemungkinan, harimau Sumatera akan punah seperti saudara-saudaranya yang lain yaitu harimau Jawa dan harimau Bali. Sekarang harimau Sumatera hanya tinggal 400 ekor saja, padahal 20 tahun yang lalu populasi harimau Sumatera 3 – 4 kali dari jumlah populasi sekarang.

Solusi apa yang dapat menghilangkan konflik yang terjadi antara manusia dan harimau di pulau Sumatera? Dan bagaimana agar populasi harimau Sumatera tidak punah? Karena hewan satu ini adalah hewan yang di lindungi pemerintah. Mungkin solusinya adalah membersihkan habitat-habitat harimau dari segala unsur pemusnahan dan pengrusakan. Dan juga Departemen Kehutanan serta instansi yang terkait melarang warga agar tidak mengeksploitasi habitat dan populasi harimau Sumatera.