Bebarapa saat setelah terjadi bencana di Aceh, budayawan sekaligus Pemred Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, berkirim SMS kepada sejumlah teman JIL-nya, termasuk Ulil Abshar. SMS itu berbunyi: Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan, maka dia percaya kepada Tuhan yang buas. Itu bukan Tuhan saya.

Kita bisa membaca (paling tidak memperkirakan) beberapa poin yang menjadi buah pikiran Goenawan di atas. Pertama, dia tidak yakin bahwa Allah memberikan cobaan yang membuat banyak nyawa melayang, harta benda ludes, dan bangunan porak poranda. Kedua, musibah dahsyat itu terlalu buas jika di alamatkan kepada Allah sebagai penguji, karena Allah itu Maha Pengasih, Penyantun dan Penyayang. Ketiga, dia tidak percaya bahwa ujian itu berasal dari Allah. Sayang, dia tidak menyebutkan, siapakah pelaku di balik musibah menurut versinya, gejala alam kah? Bom yang sengaja ditanam di laut kah? Atau malah jin penunggu laut yang memuntahkan air ke daratan?

Cobaan berupa musibah
Buah pikiran Goenawan, adalah pemikiran orang yang hanya mempercayai kehidupan dunia. Musibah hanyalah musibah dunia, bahagia hanyalah bahagia di dunia. Sehingga baginya, mustahil Allah menimpakan ujian berupa penderitaan di dunia.

Berbeda dengan sudut pandang orang yang mengimani kehidupan akhirat, dia akan memandang dengan apa yang telah dikabarkan Allah dalam kitab-Nya, dan nabi dalam haditsnya. Sekian banyak Allah menyebutkan cobaan dari-Nya yang berupa bencana dan kesusahan di dunia.
“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah: 155)

Al-Hafizh Ibnu Katsier menyebutkan bahwa maksud dari berkurangnya harta adalah hilangnya sebagian harta bendanya, sedangkan maksud berkurangnya jiwa adalah cobaan berupa kematian sahabat, kerabat dan orang-orang yang dicintai.
Adapun hadits, Nabi SAW bersabda:
“ Cobaan selalu menimpa orang mukmin dan mukminah (di dunia), baik terhadap jasad, harta, dan anaknya hingga dia menjumpai Allah dalam keadaan tidak membawa kesalahan.” (HR. Ahmad)

Tak Mampu Memahami Hikmah
Adapun anggapan mustahil bahwa musibah dahsyat itu berasal dari Allah untuk menguji hamba-Nya karena Allah itu Maha Pengasih, Penyayang dan Penyantun, hanyalah sikap untuk mentupi ketidakberhasilannya dalam melacak hikmah di balik musibah.

Jika Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan bala’, tidaklah hal itu bertujuan untuk menyengsarakan hamba-Nya. Tetapi Dia tidak menimpakan bala’ untuk menguji kesabaran dan kesungguhan ibadah hamba-Nya. Karena bagi Allah lah ibadah seorang hamba tatkala berada dalam kesempitan, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba di kala lapang. Bagi-Nya lah ubudiyah hamba dalam perkara yang tidak ia suka, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba dalam perkara yang dia suka.

Kebanyakan manusia hanya mempersembahkan ubudiyah dalam hal-hal yang mereka sukai saja, namun bakhil untuk memberikan ubudiyah dalam hal yang tidak mereka suka. Karena itulah kedudukan hamba itu bertingkat-tingkat di sisi Allah sesuai tingkat ubudiyahnya kepada-Nya

Selain itu, banyak manusia diangkat derajatnya di sisi Allah karena bersabar ketika ditimpa musibah. Sabar menghadapi musibah dapat menghapus kesalahan, mendatangkan pahala tanpa hitungan dan mendapatkan tiga karunia yang masing-masing lebih baik daripada dunia dan seisinya, yakni shalawat dari Allah, rahmat-Nya dan hidayah-Nya. Seperti yang difirmankan Allah:
“ Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah: 157)

Begitulah, musibah itu secara lahir tidak menyenangkan, tetapi besar menfaatnya bagi hamba yang mau bersabar.

Hukuman Sya’riyyah dan Hukuman Qadariyyah
Tidak menutup kemungkinan pula bahwa musibah terjadi sebagai hukuman atas dosa-dosa yang dikerjakan manusia. Sedangkan hukuman Allah itu ada dua macam: hukuman sya’riyyah dan hukuman qadariyyah. Ketika hukuman sya’riyyah ditegakkan (seperti rajam bagi pezina, potong tangan bagi pencuri dsb.), maka hukuman qadariyyah (berupa bencana masal) dicabut atau diringankan. Akan tetapi jika hukuman sya’riyyah dihapus manusia, maka hukuman akan beralih kepada hukuman qadariyyah dan seringkali lebih berat dan dahsyat, atau lebih ringan tetapi merata pengaruhnya. Hukuman sya’riyyah tidak ditimpakan kecuali atas orang yang melanggar, sedangkan hukuman qadariyyah akan menimpa pelaku dan juga orang umum. Karena jika maksiat itu tersembunyi maka tidak akan memadharatkan kecuali atas pelakunya, tetapi ketika dipamerkan di hadapan orang, maka hal itu memadharatkan pelaku dan juga orang lain. Ketika orang-orang melihat kemungkaran lalu mereka tidak mencegahnya, maka Allah akan segera meratakan hukuman-Nya. Demikian yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-jawaabul Kaafi.

Segalanya Terjadi Atas Kehendak Allah
Satu lagi, barangkali Goenawan tidak menemukan jawaban, mengapa Allah menghendaki dan mentakdirkan musibah itu terjadi? Maka sebagai ‘pelarian’ dia menyimpulkan, tidak mungkin musibah itu terjadi atas kehendak Allah, karena Allah tak mungkin menghendaki keburukan atas hamba-Nya.

Yg benar, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Allah.
“ Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Insan: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa apa saja bisa diperbuat Allah, termasuk segala perbuatan hamba adalah kehendak Allah. Tidak mungkin sesuatu terjadi di luar kekuasaan dan kehendak-Nya. Hanya saja, kehendak Allah tidak akan keluar dari dua hal, apakah yang berlaku fadhilah-Nya atau keadilan-Nya. Jika seseorang diampuni atau diberi hidayah oleh Allah, itu adalah fadhilah dan karunia-Nya, dan jika seseorang dihukum karena dosanya, maka yang berlaku adalah keadilan-Nya. Yang jelas Allah tidak akan menzhalimi seorangpun. Tetapi ketika mereka masih mempersoalkan dan memprotes, mengapa untuk si A diberlakukan fadhilah sedangkan untuk si B diberlakukan keadilan-Nya? Maka jawaban pamungkasnya adalah:
“ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”. (QS. Al-Anbiyaa: 23)

Iklan