Sejak 5 Januari 2009, Jakarta telah memberlakukan perubahan jam masuk sekolah menjadi jam 06.30 dari yg sebelumnya jam 07.00. Perubahab jam masuk ini membuat anak sekolah menjadi “stres”, terutama anak-anak SD yang notabane nya masih di bawah umur. Keluhan anak-anak ini rata-rata berpendapat sekarang smuanya harus serba cepat dilakukan, baik dari bangun tidur, mandi, sarapan serta perjalanan menuju sekolah masing-masing. Mungkin bagi mereka jika sekolahnya berada di samping, depan atau belakan rumah ga bakal menjadi sebuah permasalahan , tetapi jika jarak antara rumah dan sekolah ber kilo-kilo…….wah, bakal repot nich semua urusan.

Lantas, apa yang menjadi dasar dan pemikiran Pemda DKI untuk merubah jadwal masuk sekolah? Apa motivasinya? Dan untuk apa? Jika, motivasinya hanya untuk mengurangi kemacetan, sepertinya bukan suatu pemecahan masalah , Jakarta ya tetap Jakarta, setiap tahun angka pertumbuhan penduduknya selalu meningkat tanpa dibarengi oleh peningkatan ruas-ruas jalan, peningkatan kedisiplinan dalam kehidupan bersosial serta pengurangan mobil-mobil pribadi di jam-jam tertentu, Jakarta akan tetap menjadi kota yang hidup dengan kemacetan. Dan jika motivasinya untuk mendisiplinkan anak untuk selalu menghargai dan mempergunakan waktu dengan baik, ada sisi baiknya juga klo atas dasar tersebut, namun anak tetaplah anak, pemikirannya juga masih kayak anak-anak, perkembangan otaknya juga masih terus berkembang, anak-anak perlu belajar yang lain bukan hanya belajar soal kedisiplinan waktu aja, ada istilah “lebih baik bermain sambil belajar dari pada belajar sambil bermain”.

Jadi, apa donk persoalannya? Lalu apa solusinya? Persoalannya mungkin lebih karena waktu persiapannya yang menjadi singkat, waktu bersama-sama dengan orang tua pun menjadi singkat, jika faktor jarak dan kendaraan yang menjadi problemnya ,mereka tidak bisa berlama-lama bercengkrama dan bermain bersama teman-teman karena bel masuk telah berbunyi.

Jika memang peraturan sudah di buat, maka apa pun resikonya, entah itu buruk atau baik haruslah diterima dengan hati terbuka oleh semua kalangan yang terkait. Jadi solusinya adalah kembali pada orang tua masing-masing, orangtua lah yang sekarang harus menjadi “timer” serta pengendali bagi anak-anak mereka agar jadwal masuk sekolah yang berubah menjadi lebih pagi, menjadikan mereka tambah termotivasi dan semangat dalam menuntut ilmu di sekolah, bukan malah menjadikan beban bagi mereka. Jika pekerjaan orangtua bertambah karena perubahan jadwal masuk sekolah bagi anak-anaknya, sebaiknya orangtua jangan mengeluh dan ikut-ikutan stress, jalani lah hidup sebagai orangtua, memang itu tugasnya orangtua, menjaga amanah yang dititipkan Allah kepada para orangtua. Jagalah amanah tersebut, karena itu adalah titipin, kapan saja dapat diambil oleh yang punya.