Pemilihan umum (Pemilu) yang jatuh pada tanggal 9 April 2009 nanti, seharusnya menjadi pesta demokrasi yang sangat dinantikan dan diharapkan bagi seluruh rakyat Indonesia, namun pada kenyataannya tidak lah seperti itu, pemilu yang tinggal menghitung hari lagi seperti tidak ada gregetnya, banyak masyarakat yang acuh tak acuh dalam menyongsong pesta demokrasi ini yg tujuan dari pesta ini adalah sebagai landasan untuk menentukan nasib bangsa ini yang sebenarnya pun akan kembali ke rakyat. Apa yang sebenarnya yang sudah menghinggapi benak dari sebagian rakyat ini? mungkinkah sebagian besar rakyat sudah tidak percaya akan hasil pemilu ini, tidak percaya terhadap wakil rakyat yg akan duduk di kursi empuk DPD, DPR maupun DPRD, sudah bosan akan janji-janji manis namun kenyataannya pahit, cape dan dongkol mendengar berita-berita seputar wakil rakyat?semua itu hanya masing-masing dari pribadi setiap masyarakat. Maka, tak heran jika itu semuanya benar, golput akan terus merajalela.

Dari pembahasan golput, ditambah lagi ada wacana dari pemerintah yang akan menetapkan hari kamis (9/4) sebagai hari libur nasional, lalu diteruskan pada jum’at (10/4) sebagai libur kenaikan Isa Al Masih dan berlanjut pada sabtu (11/4) dan minggu (12/4) seperti biasanya.

Dari penetapan libur ini, otomatis bisa menjadi bumerang yang akan mengancam pemilu ini. Jika tidak libur aja sudah banyak rakyat yang akan golput. apalagi ditambah dengan adanya libur panjang, apakah malah tidak menambah rakyat yang golput? yang menjadi sekarang, apakah pemerintah sudah memikirkan hal tersebut?

Sebagian besar, biasanya jika ada libur panjang, masyarakat tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berlibur atau pelesir. Dari sumber Jawa Pos, semua tiket penerbangan baik untuk luar negeri maupun domestik pada kamis pagi (9/4) sudah habis terjual (over booked), artinya banyak masyarakat yang tidak akan berkunjung ke TPS-TPS untuk memilih caleg DPD, DPR, dan DPRD. Dari lintasan rel kereta api pun juga seperti itu, menjelang libur panjang ini memang ada kenaikan penumpang yang sangat signifikan.

Melihat fenomena itu, pengamat politik dari UI, Andrinof Chaniago mengatakan, potensi golput pada pemilu 2009 ini memang masih cukup tinggi, angkanya bisa berkisar 25 – 30%.

Sebaiknya masa tenang kampanye ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh semua komponen politik nasional untuk bersama-sama mengintefsikan kampanye anti golput.

Andrinof mengatakan, angka golput di Indonesia menunjukkan tren yang meningkat, dari hanya 10,4% pada pemilu 1999, pada pemilu 2004 menjadi 23,3%, diharapkan pada pemilu nanti angka yang golput jangan mencapai 40%, jika sampai terjadi, maka hal ini menjadi warning bagi sistem perpolitikan kita. “ujar Direktur Cirus Surveyors Group itu.

Bonny hargens (Dosen Muda FISIP UI) pun mengatakan, ia memperkirakan angka golput akan mencapai 40%, selain persoalan teknis administratif pendaftaran pemilih yang masih berantakan, kecenderungan golput juga cukup tinggi.

Ungkapan Bonny ini adalah hasil dari survey Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) UI pada tanggal 30 maret lalu, bahwa 31% masyarakat belum mengetahui apakah dirinya sudah terdaftar di DPT atau tidak.

“yang terpenting, lanjut Bonny, jangan lah menyalahkan rakyat. Untuk menekan angka golput secara teknis, itu adalah urusan KPU, sedangkan golput yang secara ideologis, itu menjadi tanggung jawab parpol untuk bisa lebih meyakinkan pemilih.”