“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengrus makhluk-Nya” (QS. Ali Imran:2)

Ayat ini menegaskan keyakinan pada Allah. Sebuah sketsa mengenai tauhid yang mutlak, jelas dan pasti bahwa Allah Maha Suci dan Maha Luhur. Tauhid yang seperti ini dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyah, yaitu mengesakan Allah. Ada juga istilah tauhidul qawamah, yaitu kesatuan pengurusan atas manusia serta seluruh alam semesta. Akibatnya, tidak ada sesuatu pun yang terlaksana kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala dan tidak ada yang mengurus makhluk kecuali Allah Ta’ala.

Dengan mentadaburi ayat-Nya akan terjalin dan terangkai hanya pada satu jalan kenyataan, yaitu mengetahui posisi kita sebagai abdi Allah, bukan abdi-abdi selain Allah. Kita terlahir dan ada hanya untuk mengabdi dan mengharap ridha-Nya.

Karenanya, untuk apa kita merekayasa tindakan, perilaku atau pun sikap yang manis, semata-mata untuk memperoleh pujian makhluk? Untuk apa menghambakan diri ini pada dzat yang pada akhirnya akan musnah?

Karena itu, sudah saatnya kita menjadi abdi yang Lillahi Ta’ala. Di antaranya adalah dengan mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah. Bersungguh-sungguh bertanya dan terus bertanya pada lubuk hati yang terdalam, apakah dalam setiap ibadah yang ada dalam pikiran dan hatinya Allah? Bila memang Allah yg ada dalam hatinya, maka selamat menikmati perjalanan menuju Allah.

Iklan