Kematian Rasulullah SAW membuat Abu Bakar merasa seakan-akan telah kehilangan semua yang dia miliki dalam kehidupan ini. Baginya beliau adalah saudara tua, sahabat yang paling agung, pemimpin tanpa tanding, rasul yang paling mulia. Cobaan yang menimpanya terasa terlalu berat, dan kesabarannya seakan tak terkuasai. Namun dakwah yang telah dimulai Rasulullah harus dilanjutkan, tidak boleh berhenti. Dan perjalanan yang dilalui beliau bersama kaum muslimin harus disempurnakan. Maka mereka bangkit dari kesedihan, mengatur barisan serta mempersatukan langkah.
Abu Bakar baru menyadari siapa dirinya yang sudah menjadi pengganti Rasulullah SAW. Dia mendapat kedudukan seperti yang didapatkan sahabatnya. Dia harus memberi keputusan dalam masalah-masalah keduniaan seperti yang dilakukan Rasulullah. Sungguh hal seperti ini tidak pernah dibayangkan sebelumnya dan tidak pernah terlintas dalam benaknya.
Dia berdiri tegak di masjid Rasul, lalu mulai naik ke mimbar seperti yang sering Rasulullah lakukan. Kemudia dia turun satu tangga mimbar dari tangga teratas yang biasa dipijak Rasul. Tak lain, karena hendak menghormati kedudukan serta mengakui ketinggian beliau.
Di atas mimbar dia menangis dan terus menangis, seperti anak yatim yang kehilanga kedua orang tua. Bagaimana tidak? Semua umat Islam kini menjadi yatim. Namun, dia segera menguasai diri dan mengembalikan emosinya. Dia lalu berdiri tegar di hadapan umat. Kini dia menjadi pemimpin mereka. Dia berkata, “Kini aku sudah menjadi wali atasmu. AKu bukanlah yang terbaik di antara kamu sekalian. Andai kata aku berbuat baik, maka bantulah aku, dan apabila aku berbuat buruk maka luruskanlah diriku. Shiddiq adalah amanat dan kebohongan adalah khianat. Orang lemah di antara kamu adalah orang kuat disisiku hingga aku melaksanakan hak baginya dengan seizin Allah. Suatu kaum tidak meninggalkan jihad fisabilillah kecuali Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Perbuatan keji tidak menyebar di suatu kaum kecuali Allah akan menyebarkan bala’ kepada mereka. Taatlah kepada selagi aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban bagimu untuk taat kepadaku. Bangunlah kamu sekalian untuk mendirikan shalat, semoga Allah merahmatimu.
Inilah pidato pertama yang disampaikan Abu Bakar dari atas mimbar Rasulullah, setelah Rasulullah meninggal dunia. Inilah yang pertama kali menandai kedudukannya sebagai khalifah. Sebuah teladan kepemimpinan yang sangat mulia. Semoga dapat menjadi contoh seorang pemimpin yang siap bahkan minta diluruskan bila melakukan kesalahan.

Iklan