Muslimah yang kuat adalah muslimah yang bisa menghadapi berbagai macam kesulitan hidup dengan selalu bersandar pada Allah. Keyakinannya uat akan pertolongan Allah, sehingga ia selalu optimistis menghadapi hidup. Bukan berarti tidak membutuhkan teman untuk berbagi, namun dengan berbekal keyakinan yang kuat, ia menjadikan temannya dan apa pun yang ada disekelilingnya hanya sebagai syariat datangnya pertolongan Allah. Ia kembalikan hakikat kejadian yang menimpanya hanya atas ijin Allah.

wanita sholehah1

Suatu ketika seorang muslimah yang sedang dirundung kesulitan datang mengadukan masalahnya, tidak ada kata dan pemecahan kecuali disarankan untuk membuka Al Quran dan memohon petunjuk Allah agar dibukakan pintu pertolongan-Nya. Seketika ia membuka Al Quran dan dengan ijin Allah ia temukan satu ayat yang menggugah relung qolbunya.

“Tidakkah kamu memerhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kuat, dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhan-Nya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24 – 25). Yang dimaksud kalimat yang baik adalah kalimat La Ilaha Ilallah.

Subhanallah, inilah ayat yang ia dapati dalam waktu sesaat ketika ia membuka Al Quran, ia termenung sejenak memaknai kalimat La Ilaha Ilallah, tiada tuhan selain Allah, Ya Rabb, hamba yakin tiada tuahn selain Engkau, ia pun terus mencoba memasukkan makna La ilaha ilallah ke dalam lubuk sanubarinya yang paling dalam, sampai ia merasakan ketenangan dan kesejukan. Ketika ia lafazkan dalam zikir di setiap helaan nafasnya.

Seperti yang tercantum dalam ayat di atas, bahwa orang yang sudah teruji dan yakin dengan makna La ilah ilallah, maka ia akan menjadi manusia yang dirasakan banyak manfaatnya oleh lingkungan sekitarnya.

Salah satu hasil dari keyakinan kepada Allah adalah untaian kata-kata yang diucapkannya adalah kata-kata yang baik, karena Allah senantiasa menuntun setiap kata yang dituturkannya. Tidak ada kata yang sia-sia kecuali setiap kata mengandung makna zikir pada Allah, tidak ada kata yang menyakiti kecuali hanya berlindung kepada Allah dari setiap perkataan yang mengandung ghibah. Semua itu adalah bentuk implementasi dari rasa takut dan cinta pada Allah.

Bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan dan menguatkan keyakinan, namun jangan menganggap sulit sejauh kita mau mencari ilmu, mengamalkannya, dan melatih diri untuk dapat mencintai Allah. Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sarana berlatih menguatkan keyakinan dan kecintaan kita pada Allah di antaranya:

Selalu merasa dilihat Allah

Tidak semua orang yang dalam keadaan sadar merasakan kehadiran Allah saat melaksanakan aktivitasnya. Padahal sekecil apa pun perbuatan kita tidak luput dari pengawasan Allah. Bukankah Allah telah menugaskan malaikat Rakib dan Atid untuk mencatat semua perbuatan yang kita lakukan.

Terkadang kita lebih “jaim” dihadapan manusia daripada di hadapan Allah, sebagai contoh seorang ibu yang sedan berkunjung ke rumah mertuanya mendapati anaknya yang rewel, menangis tidak mau diam. Apa yang dilakukan ibu ini ketika dihadapannya ada mertuanya, dibelai lembut dan dininabobokan anaknya sampai terlelap.

Lain halnya dengan ketika kondisi ini ia hadapi tanpa kehadiran mertuanya, kebiasaan buruknya adalah mencubit dan memarahinya. Itulah kebiasaan buruk kita, padalah meskipun dalam keadaan tidak seorang pun, namun Allah tetap Maha melihat.

Setiap selesai berbicara membiasakan evaluasi diri dengan beristighfar

Terkadang dalam suatu pertemuan kita lepas kontrol dalam menyampaikan ide atau pendapat, sehingga secara tidak sadar banyak perkataan kita yang terucap karena nafsu dan kepentingan kita bukan karena semangat solusi memecahkan masalah. Hal ini mungkin oleh sebagian orang dianggap sepele, namun jika riyadhoh ini diamalkan, Insya Allah akan menjadi pintu masuk kedekatan kita pada Allah.

Jangan berbicara ketika suasana hati kita tidak enak

Teko itu akan mengeluarkan isi teko. Jika berisi air jernih maka jernih pula lah minumannya, jika berisi air kopi maka keruhlah warna airnya. Itulah kiasan sederhana tentang kondisi hati kita. Untuk menjaga lisan dan perbuatan kita dari hal-hal yang dapat menyakitkan, maka berpikir sejenak dan renungi kondisi hati kita saat kita akan berbicara. Jika kondisinya sedang tidak enak sebaiknya menahan diri untuk berkata-kata.

About these ads