tabot di bengkulu

Ketika memasuki kota Bengkulu terdapat 2 bangunan layaknya gerbang masuk kota yang merefleksikan tradisi Tabot yaitu tradisi yang dikaitkan dengan sejarah Islam yang dilaksanakan selama 10 hari itu. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke- 14 dan masyarakat Bengkulu percaya jika perayaan Tabot ini tidak dilaksanakan akan terjadi bencana.

Setiap tahun perayaan Tabot terus berkembang yang diisi dengan acara-acara kolosal seperti fertival tari Tabot, telong-telong, ikan-ikan, dan lomba dol. Sejarah perayaan Tabot ini terkait dengan gugurnya cucu Rasulullah saw, Hussein bin Ali bin Abi Thalib, di padang Karbala pada tahun 61 Hijriyah atau tahun 681 Masehi. Istilah Tabot ini berasal dari kata Arab, At-Tabut yang berarti kotak kayu atau peti. Tabot masuk ke Bengkulu di bawa oleh penyebar agama Islam dari Punjab pada 1336 Masehi (756 / 757 H).

Pada awalnya terdapat 7 Tabot yang disakralkan, yaitu Tabot Berkas, Tabot Imam, Tabot Bangsal, Tabot Panglima, Tabot Sumakerindu dan Tabot Padang Jati. Sayang, Tabot Sumakerindu dan Padang Jati sudah hilang karena tak ada lagi keturunan yang meneruskan pembuatannya.

Tabot dikatakan sakral karena memiliki penja (pending jari-jari) yang terbuat dari tembaga, bentuknya menyerupai tangan manusia dan biasanya disimpan di atas rumah sekurang-kurangnya selama 1 tahun. Setiap tahun penja itu di cuci dengan ritual khusus.

Dulu, masing-masing Tabot sakral berisikan 17 set jari-jari, tapi kini sejak keluarga Tabot pecah menjadi 17 Tabot, per Tabot hanya memiliki 3 – 5 set jari-jari, penja itulah yang di pasang di tingkat kedua Tabot sakral dan ditutup kain putih.

Untuk mengenali Tabot sakral saat berkumpul dalam acara Tabot bersanding, cukup melihat tingkatannya. Tabot sakral hanya memiliki 3 tingkat, tingkat pertama berisikan kubah dasar, kernis (tangga putih) puncak rebung dan kertepahe (kaligrafi). Kernis terdiri atas 3 macam, kernis bintang, segi delapan, dan segi empat.

Tabot sakral kini dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu tabot panglima (kampung bali, bajak), Imam (berkas, pintu batu, lempung, penurunan) dan Bangsal (tengah padang, kebun keling, kebun ros, kebun beler). Tabot Panglima memiliki ciri khas di bagian atas ada patung Bora (kuda berkepala manusia dan berambut panjang) dan disebut Tabot lanang (pria), ciri lainnya, kertas yang digunakan untuk menghias badan Tabot berwarna putih dan biru.

Tabot Bangsal lebih dikenal dengan tabot lurus. Badan tabot lebih langsing daripada tabot imam dan panglima. Ciri khasnya, kertas yang digunakan untuk menghias badan berwarna merah dan putih.

Tabot Imam disebut tabot tino (perempuan). Ciri khasnya, hiasan kertas berwarna hijau dan putih. Selain tabot sakral, ada tabot pembangunan yang biasanya setiap ferstival dilombakan. Ukuran dan tingkatan tabot pembangunan bervariasi bergantung kemampuan pembuatnya. Berbeda dengan tabot sakral yang ukuran dan bentuknya sudah baku, sedangkan tabot pembangunan lebih bervariatif.

About these ads